Odd Thomas menandakan kembalinya
Stephen Sommers ke lajur penyutradaraan setelah sempat vakum empat tahun paska G.I.
Joe: The Rise of Cobra. Dalam rentang waktu itu ia hanya duduk di bangku
produser The Scorpion King 3: Battle for Redemption dan sekuel G.I Joe, G.I.
Joe: Retaliation.
Tidak seperti yang sudah dilakukannya di 13 tahun ini
bersama franchise The Mummy, Van Helsing dan G.I Joe, Odd
Thomas bukan jenis film blockbuster raksasa, ia ‘hanya’
thriller indie berbudget 26 juta Dollar tanpa sokongan studio besar yang
narasinya diadaptasi dari novel best seller milik Dean Koontz yang
banyak menuai pujian dan hingga kini sudah meneluarkan empat sekuel, dua graphic
novel serta rencananya akan ada tiga buku lagi ke depannya.
Jika kamu penggemar thriller misteri dan tahu
premisnya mungkin kamu tahu mengapa Sommers sampai mau menyutradarai dan
menulis naskahnya. Ya, Odd Thomas punya kisah menarik tentang seorang
pemuda dua puluhan yang bernama Odd Thomas (Anton Yelchin) -ya, namanya mungkin
seaneh orangnya. Sepintas Odd seperti pemuda biasa seperti kebanyakan penghuni
kota kecil di padang pasir California. Masalahnya Odd tidak seperti yang
terlihat. Ia punya kemampuan supranatural yang memungkinkannya berkomunikasi
dengan arwah orang-orang mati dan terkadang membantu mereka menyelesaikan
urusan duniawinya. Dan suatu hari ia mendapati penglihatan mistis bahwa kotanya
akan terjadi sebuah bencana besar yang akan mengakibatkan banyak korban.
Bersama bantuan kekasihnya, Stormy Llewellyn (Addison Timlin) dan kepala polisi
Wyatt Porter (Willem Dafoe) yang percaya kepadanya, Odd berusaha untuk
menghentikan mimpi buruk yang akan terjadi itu.
Odd Thomas mengejar seorang pria pembunuhan
dan pemerkosaan seorang gadis kecil setelah arwah gadis kecil itu
memberitahunya siapa sang pelaku, lalu ia bertemu dengan banyak bodachs (mahluk
kegelapan yang biasanya menghinggapi kematian). Ya, itu semua terjadi cepat di
10 menit pertamanya setelah narasi Odd yang memperkenalkan siapa dirinya dan
apa yang menjadikannya berbeda dengan kebanyakan orang, itu jelas membuat saya
susah untuk tidak langsung terpikat dengan apa yang ditawarkan Odd Thomas
dan menunggu apa yang terjadi selanjutnya. Ini seperti versi lain The Sixth
Sense yang bercampur dengan The Final Destination tanpa blood
and gore dengan sedikit komedi gelap dan romansa.
Perpaduan elemen supranatural dan misterinya
cukup kuat untuk sekedar membuatmu betah setidaknya di separuh awal sebelum
klimaksnya datang menjemput, apalagi cast Odd Thomas itu menarik
seperti Anton Yelchin (saya selalu suka dengan bocah satu ini), Addison Timlin
kekasih Odd yang kecantikanya bikin betah, mereka tidak hanya menarik
maun juga berpikiran terbuka yang masih bisa menerima segala keanehan karakter
utamanya yang biasanya selalu dihindari oleh film-film sejenis termasuk karkter
kepala polisi Wyatt Porter yang tahu apa yang terjadi kepada Odd dan percaya
kepadanya.
Tetapi ada hal-hal yang tidak konsisten dan
dipaksakan dalam perjalannya menuju akhir yang membuat plotnya berlubang di
beberapa bagian, belum lagi karkater-karkater baru yang seperti selalu muncul
silih berganti, seperti ingin membuat penontonnya bingung untuk menebak siapa
pelakunya tanpa adanya latar belakang yang jelas. Entah karena Sommers
tidak lihai mengubah narasi novelnya ke naskah film tanpa dukungan Koontz (FYI,
Sommers menulis sendiri naskahnya setelah membaca novelnya karena tidak
mendapatkan hak cipta dari Dean Koontz sebelum akhirnya diberikan pada juni
2012 lalu ) atau sederhana, memang novelnya sendiri yang tidak kuat (saya tidak
terlalu percaya yang ini), menjadikan Odd Thomas kedodoran di setengah
jam terakhir, plus twist ending yang maksa.
Hal ini masih diperparah dengan eksekusi yang buruk untuk sebuah film layar
lebar, apalagi mengingat ini datangnya dari seorang Stephen Sommers. Bisa
dikatakan Odd Thomas lebih menyerupai produksi untuk serial televisi
murahan ketimbang sebuah feature film. Sayang, padahal ini bisa
menjadi tontonan misteri yang bagus dengan segala potensi novelnya yang ada.



0 komentar:
Posting Komentar